Inovasi Rantai Pasok Susu Segar dan Masa Depan Industri Nutrisi Anak Indonesia
IDNTimesID.com, Jakarta – Industri susu pertumbuhan
anak di Indonesia menghadapi pergeseran baru, dan kehadiran AceKid dengan pendekatan berbasis susu
segar menandai perubahan pada sisi rantai pasok. Kompetisi tidak lagi hanya
bertumpu pada klaim nutrisi, tetapi juga menyentuh asal bahan baku,
ketertelusuran, dan efisiensi proses produksi.
Perubahan tersebut sejalan dengan tren global. Survei Innova
Market Insights pada 2025 menunjukkan hampir tiga dari empat konsumen global
mempertimbangkan kembali keputusan membeli setelah membaca daftar bahan,
sementara 58 persen menilai kejelasan informasi bahan dan sumbernya penting .
Ketertelusuran menjadi standar baru
Ketertelusuran pangan bukan konsep baru dalam industri. ISO
22005 memuat prinsip dan persyaratan dasar untuk merancang serta menerapkan
sistem ketertelusuran pada rantai pangan .
Sistem ini membantu produsen mencatat aliran bahan,
mengidentifikasi sumber ketidaksesuaian, dan mendukung penarikan produk secara
lebih terarah bila diperlukan .
Bagi pelaku industri, penerapan ketertelusuran berarti
investasi pada pencatatan data, integrasi pemasok, digitalisasi, dan audit
berkelanjutan. Biaya awalnya tidak kecil, tetapi berpotensi memperkuat
kepercayaan konsumen dan mempercepat respons ketika terjadi persoalan mutu.
Efisiensi proses produksi
Model produksi konvensional sering melibatkan dua tahap
pengeringan. Komponen susu diproses menjadi bubuk lebih dahulu, dikirim ke
fasilitas formula, dilarutkan kembali, dicampur nutrisi, lalu dikeringkan
menjadi produk akhir.
Sebaliknya, sistem one-step fresh mengolah susu segar
langsung menjadi bubuk melalui rangkaian terintegrasi. AceKid menyebut
prosesnya berlangsung sekitar dua jam sejak susu segar diterima hingga menjadi
produk bubuk .
Pendekatan tersebut menuntut kedekatan geografis antara
peternakan dan pabrik, kapasitas pendinginan, serta pengendalian mutu yang
ketat. Karena itu, model ini lebih menyerupai keputusan strategis rantai pasok
daripada sekadar diferensiasi pemasaran.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia
sekaligus Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial FKUI-RSCM, Prof. DR. dr.
Rini Sekartini, Sp.A(K), menyoroti pentingnya proses pengolahan.
“Dengan proses pengolahan yang lebih ringkas, kualitas
nutrisi alami susu diharapkan tetap terjaga karena tidak mengalami paparan
panas tinggi secara berulang,” ujar Prof. Rini.
Kata “diharapkan” dalam pernyataan tersebut penting.
Efisiensi proses bukan pengganti pengujian, pengendalian suhu, keamanan
mikrobiologi, maupun kepatuhan regulasi.
Implikasi bagi pasar Indonesia
AceKid mengambil bahan baku dari kawasan sekitar 47 derajat
lintang utara yang disebut golden milk source, dengan pendekatan natural and
fresh dan konsep traceable milk source .
Struktur tersebut memperlihatkan bahwa keunggulan berbasis
susu segar sangat bergantung pada lokasi sumber bahan. Bagi industri domestik,
tantangannya berada pada produktivitas peternakan, mutu bahan baku lokal,
infrastruktur rantai dingin, serta konsolidasi pasokan dari peternak kecil.
Sejumlah data internal AceKid menunjukkan pergeseran
ekspektasi konsumen. Dari 1.300 ibu yang menjadi responden FGD, 87 persen
menilai sumber susu penting, sementara 56 persen masih menjadikan Informasi
Nilai Gizi sebagai indikator pembelian utama dan 33 persen memeriksa komposisi
.
Peluang dan batasannya
Ke depan, diferensiasi industri nutrisi anak berpotensi
bergeser ke arah transparansi bahan, ketertelusuran digital, pengurangan bahan
tambahan, dan komunikasi yang lebih terukur.
Namun, klaim seperti susu tanpa maltodekstrin, susu tanpa
perisa sintetik, penyerapan lebih baik, atau pencernaan nyaman tetap perlu
dibaca sebagai karakteristik produk, bukan jaminan hasil pada setiap anak.
Regulasi label dan klaim pangan olahan juga membatasi cara klaim tersebut
dikomunikasikan.
Bagi produsen, transparansi menjadi peluang membangun kepercayaan. Bagi konsumen, kebiasaan Cek Komposisi tetap menjadi langkah paling praktis sebelum menentukan produk.
